KEMERDEKAANitu biarlah betul-betul merdeka, merdeka dari rasa takut atau ditakut-takuti. Merdeka dari sesama anak negeri yang saling "menjajah", merdeka dari phobia urusan dengan kantor pemerintahan, merdeka dari phobia kekerasan, dan merdeka dari hal yang tidak baik lainnya. Jika mau mengurus KTP, langsung phobia. dengarkansekali lagi putri, kalau kita merdeka tidak berarti bahwa sama sekali kita bebas dari kemiskinan, kalau kita merdeka berarti kita sendirian dinegara ini tidak disuapin, kalau kita merdeka kita berjalan sendirian, kalau kita jatuh kita bangun sendirian , kalau kita sakit kita bangun sendirian, kalu ingin kaya kita harus berusaha Kitamemang sudah merdeka secara De Facto dan De Jure pada tanggal 17 Agustus 1945, Nah, ada dua pertanyaan besar dari ketua Radjiman Wedyodiningrat, yakni kenapa Indonesia harus merdeka dan apa dasar Indonesia Merdeka? Bung Karno menjelaskan bahwa negara Indonesia sudah lama dijajah bangsa asing, dan kini sudah saatnya lepas dari Kurikulumjuga mempengaruhi kecepatan dan metode mengajar yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Untuk itulah Kemendikbudristek mengembangkan Kurikulum Merdeka sebagai bagian penting dalam upaya memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama kita alami. Apa pergantian ini tidak terlalu cepat? . BESOK adalah hari kemerdekaan negara kita tercinta, Indonesia, yang ke-68 tahun. Meskipun di televisi dan koran yang sering kali menjadi headlines adalah pejabat demi pejabat tertangkap KPK, dan di pengadilan terbukti bersalah, kita harus tetap merasa bersyukur bahwa kita berada di sebuah negara yang sudah yang saya maksud di sini adalah bahwa negara kita sudah diakui dunia sebagai negara yang berdaulat, sejak 17 Agustus 1945. Akan tetapi, apakah negara kita sudah benar-benar ”merdeka”? Pertanyaan ini sering kali menjadi pertanyaan sindiran politikus maupun mahasiswa, dan aktivis terhadap kinerja pemerintah. Negara kita yang begitu kaya atas hasil laut, tetap harus mengimpor ikan tuna yang notabene ditangkap di perairan kita sendiri?Negara yang luas ini juga harus mengimpor buah-buahan dari Thailand? Semua yang dilakukan pemerintah pasti punya alasan sendiri. Mereka punya analisis sendiri. Saya yakin semua itu dilakukan bukan semata mencari ”gampangnya” saja. Tapi saya juga cukup yakin, kalau mau berusaha... mungkin 5–10 tahun dari sekarang negara kita bisa swasembada pangan. Beberapa hal masih tetap harus impor, tidak masalah, tapi bukan semuanya impor. Kenapa saya bilang 5–10 tahun lagi?Karena memang hasil yang maksimal tidak akan pernah bisa kita rasakan secara instan. Mana ada sukses yang instan? Semua butuh proses. Ketika dalam proses itu, harus ada kesungguhan untuk menjalaninya, demi sebuah pencapaian yang maksimal. Itu tentang negara kita yang besok ulang tahun ke-68. Bagaimana dengan diri Anda? Apakah Anda sudah ”merdeka”? Untuk sebuah negara yang belum diakui kedaulatannya, tujuan mereka untuk merdeka adalah untuk diakui seluruh dunia bahwa negara tersebut sudah secara hukum ”eksis” di peta jelas, arti merdekanya pun jelas. Nah, kalau untuk Anda, sudah tahu belum apa arti merdeka untuk diri Anda? Mungkin untuk anak remaja, arti merdeka bagi mereka adalah ketika mendapatkan kepercayaan oleh orangtuanya untuk boleh bermain dengan teman-temannya. Untuk mahasiswa, mungkin arti merdeka buat mereka adalah ketika mereka bebas memilih jurusan yang mereka para pekerja kantoran, merdeka untuk mereka adalah ketika mereka dipercaya oleh atasan untuk menggunakan kreativitasnya dalam menyelesaikan tugas yang diberikannya. Bagi entrepreneur, mungkin arti merdekanya adalah ketika mereka bisa bebas pergi dan pulang kantor jam berapa pun yang mereka inginkan, dan bebas mengambil keputusan apapun untuk perusahaan hanyalah daftar contoh-contoh arti merdeka bagi mereka masingmasing. Bagi saya, arti merdeka adalah financial freedom, di mana saya tidak lagi perlu untuk berpikir dan bekerja demi menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, dan gaji karyawan yang ada di perusahaan-perusahaan saya selamanya. Uang memang bukan segalanya, tapi kita harus sadari bahwa uang itu kita hidup di dunia yang memerlukan uang untuk bisa melangsungkan hidup kita. Untuk tinggal, kita butuh rumah. Untuk makan, kita butuh makanan. Kita butuh baju. Kita butuh kendaraan transportasi untuk bepergian. Kita butuh hiburan. Dan semua itu hampir tidak ada yang gratisan. Kita butuh uang untuk membeli atau membayar itu semua. Kalau kita mampu meraih yang namanya financial freedom, di mana kita tidak lagi perlu bekerja dengan tujuan mencari nafkah, kebayang kan bahwa hidup kita bisa lebih ”sesuai dengan apa yang kita inginkan”?Mungkin Anda berpikir, ”Wah, kalau saya sudah tidak perlu bekerja dan uang mengalir masuk terus, saya akan A, B, C, D – Z”. Apakah ini salah? Tidak. Keinginan setiap orang berbeda. Apa yang membuat seseorang bahagia pun berbedabeda. Saat ini, saya sendiri belum ”merdeka". Saya masih harus terus berjuang untuk membesarkan perusahaan-perusahaan yang telah saya lahirkan bersama dengan mitra-mitra bisnis belum mampu untuk tidak melakukan apa-apa, atau berkeliling dunia tanpa harus memikirkan bagaimana caranya agar uang terus mengalir ke dalam kas saya dan kas perusahaan. Yang pasti, setiap kali saya ”bermimpi” kalau suatu saat saya bisa mencapai financial freedom, saya ingin bisa lebih fokus ke lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Jadi bukan hanya berbagi lewat uang, tapi juga lewat ide, tenaga, dan saat ini saya sudah banyak melakukan kegiatan sosial, tapi menurut saya belum cukup. Saya merasa belum puas. Saya merasa bahwa apabila saya sudah mencapai financial freedom, saya akan mampu lebih banyak lagi berbagi. Itu yang saya inginkan. Anda pernah membaca buku Robert Kiyosaki yang judulnya Rich Dad Poor Dad? Ini buku yang membuat saya mulai merencanakan financial freedom saya di tahun itu saya menjabat sebagai General Manager Oakley Indonesia, dan saya untuk kali pertama menjadi ikut menanam modal dan menjadi shareholder di perusahaan yang saya ciptakan bersama mitra bisnis saya, Rudhy Buntaram. Lahirlah PT Jakarta International Management. Sejak saat itu, saya bersama mitra-mitra bisnis saya lainnya sudah membangun beberapa yang bertahan hingga sampai sekarang, ada juga yang bangkrut. Belasan unit bisnis yang kami bangun di bawah naungan perusahaan-perusahaan tersebut juga tidak semuanya berjalan mulus. Ada yang semakin berkembang, ada yang masih kerdil, bahkan juga ada yang sudah ditutup. Semua ini saya lakukan, karena memang tujuan saya adalah untuk memiliki financial freedom. Di buku Rich Dad Poor Dad, yang saya jalankan ini masuk ke dalam kuadran ”B” = buku itu juga dijelaskan bahwa financial freedom bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki bisnis dan atau memiliki investasi saham, sewa-menyewa properti, dan sebagainya. Bagi pekerja kantoran maupun self employed dokter, MC, pembicara, mereka akan selamanya harus terus bekerja untuk mendapatkan uang. Salah satu deskripsi ”merdeka” atau yang saya maksud dengan financial freedom di sini adalah ketika kita memiliki passive income yang melebihi dari kebutuhan kalau misalnya pemasukan dari royalti buku dan kos-kosan yang disewa-sewain Rp100 juta/bulan, sementara kebutuhan hidup sehari-harinya hanya Rp5 juta, ini baru ”merdeka”, menurut saya. Nah, apa merdeka menurut Anda? Coba renungkan deh. Arti merdeka buat Anda sama dengan apa tujuan yang ingin Anda capai. Kalau Anda tidak tahu apa arti merdeka untuk Anda, berarti Anda saat ini setiap hari hanya menjalankan rutinitas saja. Hidup Anda kemungkinan besar tidak memiliki enak sih hidup seperti itu? Menurut saya, apa pun arti merdeka buat setiap orang pastinya berbeda-beda, dan tidak ada yang salah. Negara kita sudah merdeka, dengan segala kekurangannya. Apakah Anda sudah merdeka, atau setidaknya, apakah Anda sudah sedang berjuang demi kemerdekaan hidup Anda? See you ON TOP!BILLY BOEN CEO PT YOT NusantaraDirector PT Jakarta International ManagementShareholder, Rolling Stone billyboenPenulis Buku ”Young On Top”, ”TOP Words”, dan ”TOP Words2” ©IstApakah benar kita sudah merdeka?Tunggu dulu. Apakah perlu momen bersejarah itu kita pertanyakan lagi? Sebenarnya nggak perlu, sih. Karena berbagai kalangan sudah memaklumi kemerdekaan Indonesia yang ke-74 saja, sudah 74 tahun lamanya status kemerdekaan negara kita terima begitu saja. Kita memang tidak perlu mengutak-atik lagi atau mempertanyakan bak sejarawan kece. Sudah, akui akui saja. Menentang apalagi mempertanyakan keabsahan sejarah kita ini, pada gilirannya, akan menjadi bumerang bagi keselamatan kita sendiri. Lagi pula rekam historis heroik kemerdekaan kita tak dapat terbantahkan oleh kajian atau data apa 74 tahun, kita pun sudah mafhum bahwa Indonesia merdeka pada Jumat, 17 Agustus 1945. Bapak proklamasi kemerdekan ya Ir. Soekarno. Sang wakil tiada lain Mohammad Hatta. Ini sudah pengetahuan paten, bahkan termasuk ilmu apa masalahnya? Masalahnya tiada lain perihal kualitas kemerdekaan itu sendiri. Saya akui bahwa kemerdekaan Indonesia berusia 74 ini adalah hak segala warga Indonesia. Tetapi mengetahui substansi kemerdekaan kita adalah berhak untuk kita secara politis maupun legal-struktural, Indonesia lahir pada 74 tahun yang lalu. Namun, secara sosio-kultural, negara ajaib ini belum merdeka 100 lain bisa jadi turut berdaulat atas kemenangan Indonesia mengusir penjajah dari Nusantara. Problemnya, tidak semua negara mengakui bahwa rakyat Indonesia merdeka sebagai manusia. Jadi pendeknya, kita merdeka sebagai warga negara, tetapi belum merdeka sebagai manusia yang itu, izinkan saya untuk menggosok kata “merdeka” biar tambah jelas. Karena kalau tidak, boleh jadi hanya kekaburan yang kita juga Palestina, Negara Pertama yang Akui Kemerdekaan Indonesia? Asa Azyumardi Azra di Hari Kemerdekaan IndonesiaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka punya arti bebas; berdiri sendiri; lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung pada orang atau pihak di atas cukup jelas. Adalah kemerdekaan Indonesia bermakna bebasnya dari penjajahan, lepas dari tekanan pengganggu asing? Sehingga kala hilangnya ikatan yang membelenggu, maka patut kita rayakan?Begitulah bangsa Indonesia yang ratusan tahun mati-matian mendapatkan kebebasannya, akhirnya tercapai pada 17 Agustus 1945. Gegap gempita rakyat tak sudah-sudah. Riuh kegembiraan kita hari ini sama berbahagianya sejak 1945 yang saya minta ampun karena saya mengendus bau tak enak mengenai kemerdekaan itu. Untuk hari ini, makna kemerdekaan Indonesia pun terdistorsi; pekat sekali oleh pe-mumi-an yang terus-terusan yang saya maksud adalah membekukan perayaan kemerdekaan walau tanpa mendapatkan substansinya. Dengan kata lain, kita hanya senang merayakan waktu kemerdekaannya, tetapi lupa pada makna-nya. Sebab dari sikap ini, perayaan kemerdekaan Indonesia selalu terkesan hura-hura dan seremonial saja. Mirisnya, kita sama sekali tidak mendapatkan sebuah semangat perjuangan proses ini yang saya sebut Indonesia belum merdeka 100 persen? Bisa jadi. Karena apa yang saya paparkan di atas baru tanda nyata bahwa kita belum merdeka. Dan saya belum menunjukkan bukti referensialnya. Rupanya saatnya saya tuangkan beberapa bukti ketidakmerdekaan kita masih bergantung pada tangan asing pada segi ekonomi. Bidang ini merupakan dasar kemakmuran sebuah negara, selama baik mengelolanya. Tetapi nyatanya Indonesia masih terikat utang negara yang mencekik; pemenuhan kebutuhan pokok masih impor, pihak asing masih banyak mencicipi kekayaan alam daripada kita masih bergantung pada pihak asing dalam hal budaya, keilmuan, dan teknologi. Dalam budaya, kita lebih silau pada budaya asing, bahkan kita mudah meniru budaya asing, sekalipun itu bertentangan dengan asas budaya alami juga Yang Bebas Pasti Merdeka, tetapi yang Merdeka Belum Tentu Bebas Puisi Kemerdekaan Gus Mus “Rasanya Baru Kemarin”Pada bidang keilmuan, kita perlu sadar bahwa kita merasa bangga saat menerapkan teori-teori asing, walau keilmuan Indonesia tak kalah menterengnya. Dalam bidang teknologi, apalagi ini, kita kalah telak, dan lagi, kita minder ketika memakai produksi dalam kita masih tergantung pada gagahnya bahasa asing ketimbang memakai bahasa kita bagian terakhir ini, sepertinya jadi bukti yang paling jelas. Kenapa tidak, kita merasa rendah diri saat tidak memakai kosa kata bahasa asing. Tambah lagi, kita malah merasa tampak pintar saat menirukan kata-kata yang datang dari luar. Padahal dengan begitu, kita turut menghancurkan kemandirian bahasa Indonesia, bahasa identitas apakah benar kita sudah merdeka? About Latest Posts Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA ?Tepat hari ini adalah hari kemerdekaan Negara kita yaitu Indonesia tercinta yang ke 68 tahun, juga bersamaan dengan hari ulang tahun putraku satu-satunya yang ke 16 tahun. Banyak slogan “Merdeka” bertebaran di mana-mana, membawa asumsi kita menilai bahwa sepertinya kita ini sudah benar-benar merdeka, tetapi sebetulnya apakah kita ini memang benar-benar merdeka lahir dan batin , jiwa dan roh?Ketika masih banyak orang yang buta huruf, maka orang berpikir bahwa bagi mereka yang buta huruf itu masih terjajah oleh kebodohan. Ketika orang masih menggunakan kehidupan yang sederhana, maka orang mengatakan bahwa mereka masih terjajah oleh kemiskinan. Dalam menilai segala sesuatu, standart atau patokan apakah yang masih dipakai untuk semua ini ? Di era globalisasi seperti sekarang inipun, banyak orang yang menggunakan penilaian kalau orang semakin modern akan semakin canggih dalam menggunakan IT akan semakin maju dan merdeka. Dari sudut pandang inilah, orang berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan alat-alat canggih yang beredar dengan begitu banyak pilihan, mulai dari merk, fitur, dan dunia pendidikan dan bisnispun, banyak sekali slogan-slogan yang ingin mempengaruhi cara berpikir dan berusaha menarik mereka untuk bergabung menjadi seperti apa yang mereka inginkan, seperti “Financial freedom”. Siapa sih yang tidak tertarik untuk menjadi kaya ? pastilah semua orang menginginkan hal tersebut, karena memang itu kebutuhan untuk hidup di dunia ini. Tetapi segala sesuatu yang berlebihan, dan tidak di kelola dengan benar, maka justru membuka celah untuk yang tidak kita inginkan atau terduga masuk, dan tanpa sadar mempengaruhi ,menjerat ,yang pada akhirnya membawa kerusakan – dalam keseimbangan dalam segala hal , itulah yang akan melatih kita untuk tetap selalu mawas diri, tetapi tidak semua orang akan setuju ataupun memiliki kekuatan untuk melakukannnya. Tarikan-tarikan untuk terus melakukan apa yang dianggap benar dalam persepsinya dan keinginan-keinginan daging , nafsu dan penerimaan diri di tengah-tengah masyarakat akan terus bergolak dan berjuang di dalam jiwa dulu pahlawan-pahlawan kita bersatu dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan bagi bangsa dan Negara kita dari segala penjajah. Setelah mereka berhasil mengusir penjajah dan mendapatkan kemerdekaan, perjuangan berikutnya adalah bagaimana memajukan pendidikan, ekonomi dan mendirikan Negara kesatuan Republik Indonesia. Sekarang ini kita telah menikmati Negara yang jauh berubah dan berkembang di bandingkan dahulu, walaupun masih banyak orang menganggap Indonesia masih tertinggal cukup jauh dengan Negara-negara tetangga atau seasia. Saya pribadipun tetap menghargai para pejuang-pejuang yang telah rela berkorban sampai tetes darah penghabisan untuk mewujudkan Negara kesatuan Indonesia yang makmur ini, bagi kita yang dapat menikmati kemerdekaan Negara Indonesia tercinta,cobalah menengok ke dalam diri kita, apakah kita memang sudah sudah benar-benar merdeka di dalam cara berpikir ? di dalam gaya hidup sehari-hari ? di dalam menjaga kesatuan keluarga ? di dalam menghargai upaya orang-orang yang telah berjuang untuk membangun bangsa dan Negara ini, dengan meneruskannya di dalam tingkah laku kita sehari-hari mulai dari hal-hal yang kecil seperti disiplin diri,menjaga lingkungan tetap bersih, aman dan damai ?Memang untuk membangun tidak semudah untuk merusak ataumeruntuhkannya. Di dalam hal inilah perjuangan kita sesungguhnya ,untuk mendahulukan kepentingan-kepentingan orang lain daripada kepentingan-kepentingan pribadi kita. Inilah kemerdekaan kita, yaitu apabila kita dapat hidup dalam penguasaan diri,melakukan tugas dengan ikhlas,tanggung jawab dan menularkan sikap bijak kepada orang hidup di akhir zaman ini memang kita akan melewati masa yang sukar, di mana kasih akan orang semakin dingin karena kejahatan yang semakin bertambah, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih,tidak memperdulikan agama,tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang,tidak dapat mengekang diri,garang,tidak suka yang baik,suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menurut I Allah, walau secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kita sungguh-sungguh merdeka, berdirilah teguh di dalam iman dan kasih Tuhan, oleh Roh-Nya dan jangan mau lagi di kenakan kuk perhambaan. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh hari ini akan menjadi hari awal yang akan mengubahkan hidup kita di dalam kemerdekaan yang sesungguhnya, bukan hanya slogan ataupun bagian kulitnya. Lihat Catatan Selengkapnya Indonesia telah menjadi negara yang merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945. Merdeka atas penjajahan dan merdeka atas negaranya sendiri. Sudah 76 tahun berlalu dan kita sampai saat ini masih bisa merasakan kemerdekaan tersebut. Tapi apakah kita telah benar-benar merdeka? Sejarahnya kita memang negara yang merdeka, tapi kita seolah-olah hanya berjalan di tempat dan masih setia menyandang negara berkembang. Bukan bermaksud membandingkan, tapi Korea Selatan yang kemerdekaannya hanya berbeda 2 hari saja dengan Indonesia, kini telah berhasil menjadi negara yang maju, oke, hanya berbeda 2 hari, mungkin bukan perbedaan yang jauh. Bagaimana dengan Singapura yang baru merdeka pada 9 Agustus 1965?. Dengan kata lain, setelah 20 tahun kita merdeka, barulah Singapura menjadi sebuah negara merdeka, walaupun sebelumnya masih menjadi bagian dari negara Malaysia. Kenyataannya, negara kita memang sedang menghadapi banyak masalah, mulai dari perekonomian, infrastruktur, pandemi covid, dan masih banyak lagi. Tapi pernahkah kita menerung apa sebenarnya akar masalah dari negara kita?. Untuk menjawab pertanyaan besar tersebut, kita bisa berangkat dari buruknya rangking Indonesia pada PISA Programme for International Student Assessment, sebuah tes yang dilakukan oleh OECD Organisation for Economic Co-operation and Development, tes tersebut menguji kemampuan anak-anak di seluruh dunia dalam membaca reading, matematika mathematics, dan sains science. Tes ini diadakan setiap 3 tahun sekali dan pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 Negara, sedangkan pada tahun 2018, Indonesia menempati peringkat 70 dari 78 Negara. Menariknya lagi, yang berada di peringkat satunya bukanlah Amerika, China, ataupun Negara super power lainnya, melainkan Singapura. Berbicara tentang PISA lagi, pada dasarnya PISA bukanlah sebuah tes untuk tahu pencapaian siswa dari kegiatan pembelajaran, melainkan adalah untuk mengukur seberapa siap seorang siswa untuk bisa survive dalam menjalankan kehidupannya. Mengingat bahwa jaman terus berkembang dan terus mengalami perubahan. Dari sini kita belajar bahwa, masih banyak siswa di Indonesia belum siap untuk menjalankan kehidupan yang serba modern dengan perubahan yang sangat cepat. Pendidikan kita terbilang lambat untuk mengikuti trend dan kebutuhan industri di segala bidang pada saat ini. Sebagai contoh, sekarang kita memasuki era digital, dimana semua bisa diakses melalui internet, salah satunya adalah Youtube. Dari sebelum Youtube menjadi sebuah wadah pekerjaan sampai menjadi sumber penghasil uang. Sistem Pendidikan kita tak sekalipun berubah dan peka terhadap perubahan digital. Salah satunya adalah tidak diajarkannya di sekolah tentang penggunaan media digital. Pemerintah seharusnya menjaga iklim Pendidikan di Indonesia clime control, yaitu mengawasi jalannya pendidikan agar berjalan dengan baik. Sir Ken Robinson dalam sebuah kesempatan di TED mengatakan “Masalahnya adalah pendidikan tidak berlangsung dari ruang DPR, melainkan dari kelas dan sekolah. Dan yang menjalani Pendidikan formal adalah guru dan murid. Dan jika kamu menghilangkan diskresi itu. Pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik, kita harus mengembalikan Pendidikan ke masyarakat”. Pendidikan itu menyesuaikan dengan kondisi dan keinginan masyarakatnya. Dewasa ini, sudah berapa tahun waktu yang kita berikan untuk menjalani pendidikan kita?. Sekurang-kurangnya 12 tahun merupakan waktu yang dibutuhkan untuk menjalani pendidikannya di Indonesia, itupun bagi mereka yang mampu. Selama kurun waktu tersebut, berapa banyak mata pelajaran yang kemudian berguna dalam dunia pekerjaan dan masyarakat? atau setidaknya dari 12 tahun itu, pelajaran mana yang sangat berguna untuk siswa itu bisa melanjutkan kehidupannya?. Mari berpikir dan merenung sejenak. Ki Hajar Dewantara merumuskan Pendidikan di Indonesia dengan tujuan untuk memerdekakan manusia. Apa maksud dari manusia yang merdeka itu?, yaitu manusia yang selamat raganya dan manusia yang bahagia. Apakah selama ini sekolah mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang merdeka? Manusia yang selamat raganya dan bahagia hidupnya?. Jawabannya lagi-lagi bisa kita pikir sendiri. Ki Hajar Dewantara, melalui filosofi tri rahayu menjelaskan 3 peran penting pendidikan, Memajukan dan menjaga diri Memelihara dan menjaga bangsa Memelihara dan menjaga dunia. Jika kita mampu memerdekakan satu orang, itu adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga. Memerdekakan satu keluarga adalah langkah awal memerdekakan satu daerah. Dan Memerdekakan satu daerah adalah langkah awal memerdekakan satu bangsa. Lant Pritchett, professor dari Oxford University dalam tulisannya berjudul “The Need for a Pivot to Learning New Data on Adult Skills from Indonesia” pada 2016 mengatakan anak Indonesia yang tinggal di Jakarta dan telah menyelesaikan pendidikan tinggi memiliki literasi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak Yunani atau Denmark yang baru menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya. Beliau menambahkan, terdapat sebuah kesenjangan kemampuan yang dimiliki anak Indonesia, dan bila gap/kesenjangan tersebut diukur dalam satuan waktu, kita, negara Indonesia tertinggal selama 128 tahun. Kualitas Pendidikan secara tidak langsung juga mengukur kualitas guru. Hasil uji kompetensi guru UKG tahun 2015 menunjukkan rata-rata nilai UKG di Indonesia adalah dari 100. Dampak yang tejadi dari nilai UKG tersebut adalah sulitnya komunikasi mempengaruhi proses transfer ilmu membuat siswa menjadi malas dan kurang senang dengan pelajaran yang sedang dipelajari. Disisi lain, pada tahap Pendidikan selanjutnya, yaitu di perguruan tinggi, siswa sekolah mengenah atas harus mendapatkan kursi pada perguruan tinggi. Pada akhirnya lembaga bimbingan belajar menjadi pilihan untuk menutupi ketidaktahuan pelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Dewasa ini, untuk bimbingan belajar pada umumnya apalagi kusus persiapan masuk perguruan tinggi menghabiskan 5 Juta rupiah. Padahal kita semua sadar bahwa tidak semua siswa tersebut mampu untuk membayar atau mengikuti bimbingan tersebut. “apakah hanya sampai disitu masalahnya?” “jawabannya, tidak” Tahun 2030 kita akan menghadapi bonus demografi, dimana angka populasi manusia produktif 15-64 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan angka populasi manusia non-produktif 64 tahun ke atas. Bonus demografi merupakan sebuah penawar sekaligus akan menjadi senjata yang mematikan bagi bangsa Indonesia. Kenapa?. Bonus demografi dapat dianalogikan seperti rumah tangga, bila jumlah pekerja dalam keluarga tersebut lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak bekerja, maka keluarga itu akan makmur dan sejahtera. Dimana masyarakat pada usia produktif mampu bekerja dan memberikan kontribusi terbaik yang relevan terhadap perkembangan dunia industri dan digital. Sebaliknya, setelah terjadinya bonus demografi, muncul demographic burden atau beban demografi. Beban demografi artinya dimana angka populasi usia non-produktif lebih banyak dibandingkan dengan populasi usia produktif. Dalam sebuah artikel berjudul “Attaining the Demographic Bonus in Indonesia” oleh Teguh Warsito, pemerintah Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, penyamarataan pendidikan, mengurangi lama waktu pendidikan, dan memanfaatkan internet untuk mengedukasi masyarakat. Pendidikan sekali lagi menjadi sesuatu yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Sehingga mari coba kita tanyakan pertanyaan yang tadi sempat muncul di awal. “Apasih sebenarnya akar masalah dari negara kita?” “Jawabannya adalah pendidikan kita”. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah sepenuhnya dan juga tidak bisa membiarkan pemerintah memegang penuh kendali pendidikan, melainkan kita harus bekerja sama dengan semua elemen pendidikan yang ada di negara kita, diantaranya adalah, pemerintah, masyarakat, guru, sekolah dan yang terakhir adalah pihak swasta. Siapakah pihak swasta itu?. Mereka adalah pihak yang bergerak secara mandiri, pihak-pihak yang berusaha mencari solusi dengan gagasan-gagasan dan ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah di ranah pendidiakn. Contoh pihak swasta tersebut adalah Ruang Guru, Zenius, Pahamify, Quipper, dan masih banyak lagi. Menurut penulis, terdapat sedikit penekanan untuk kata “pihak swasta”. Karena inilah wadah dan tempat berkumpulnya ide kreatif, niat baik dan gagasan inovasi. Contoh dari luar dunia pendidikan adalah Gojek, aplikasi yang mempertemukan penumpang dan supir/pengendara motor melalui aplikasi yang sama-sama saling menguntungkan kedua pihak. Begitu pula dengan pihak swasta yang berada dalam ranah dunia Pendidikan kita, sekarang adalah tugas anak-anak muda yang penuh ide-ide baru, gagasan kratif, inovasi, dan semangat yang berapi-api untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia ke arah lebih baik. Penulis yakin, mengolaborasikan bonus demografi dengan inovasi usia produktif anak Indonesia adalah salah satu penawar yang mampu mengobati banga kita atau bahkan memberikan dorongan untuk bangsa ini agar bisa menjadi bangsa yang maju. “Mari kita sama-sama berdoa dan berusaha serta bersinergi untuk memperbaiki bangsa ini, mulai dari diri kita sendiri”

apakah kita sudah merdeka